Shalat dhuha adalah salah satu shalat yang sangat di anjurkan oleh Nabi SAW.
Rosulullah
Bersabda :"Barang siapa melakukan shalat dhuha 2 rakaat,maka dia tidak
akan ditulis di antara orang-orang yang lupa pada Allah"
Adapu waktu
shalat dhuha dimulai sejak matahari sudah tinggi kira kira satu
tombak(kira kira 16 menit sesudah terbitnya matahari) dan berakhir
sampai tergelincirnya matahari atau masuk waktu dzuhur.Bilangan rokaat
shalat dhuha minimal 2 rokaat dengan satu kali salam dan yang paling
banyak 8 rokaat.Adapun bacaan surat yang dibaca setelah membaca surat
Al-Fatihah tidak wajib surat tertentu.Namun yang lebih utama,pada rokaat
pertama setelah membaca surat al-Fatihah mambaca surat al-Syamsi dan
pada rokaat ke 2 membaca surat al-Dhuha.
Sekretariat jl.mawar 02 krajan asrikaton kecamatan pakis kabupaten malang
Selasa, 22 November 2016
Senin, 21 November 2016
Khotbah Habib Umar bin Hafidz
Khotbah Habib Umar bin Hafidz
Segala madah bagi Allah SWT, penghimpun manusia di hari kiamat yang
telah dipastikan. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah SWT,
satu-satunya, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dialah yang bakal meletakkan
seluruh manusia di hadapan-Nya, guna diberi pahala atau siksa. Ketika
itu, beruntunglah manusia-manusia beriman yang pandai memanfaatkan waktu
hidupnya dengan menghadiri majelis kebajikan, ketaatan dan zikir, dan
menyesallah mereka yang telah menghabiskan umurnya untuk berbuat
maksiat. Aku bersaksi bahwa sang panutan, Nabi Muhammad SAW adalah rasul
yang diutus oleh-Nya untuk menabur hidayah di muka bumi. Ya Allah
limpahkanlah salawat dan salam kepada Baginda Muhammad SAW, beserta
keluarga, sahabat dan orang-orang yang patuh kepada beliau hingga hari
akhir nanti.
Wahai hamba Allah,,,,,
Dalam majelis ini, aku berwasiat kepada kalian samua, sekaligus kepada
diri sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Ketahuilah,
barangsiapa bertakwa kepada Allah SWT, ia akan hidup penuh kekuatan dan
berjalan di bumi-Nya dengan rasa aman dan tentram
Wahai hamba Allah,,,,,
Ada dua perkara yang menyebabkan umat Rasulullah SAW ini kerap kali
dilanda musibah dan bencana, dan sayang sekali, mereka tidak menyadari,
atau bahkan tidak mempedulikanya sama sekali, sekalipun beliau SAW dan
para ulama telah sering mengingatkan.
Dua perkara itu adalah, pertama, tiadanya penghargaan akan waktu,
kesempatan dan umur yang telah dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala.
Sekarang ini, umumnya umat telah menyia-nyiakan waktu dan membuangnya
untuk hal-hal yang kosong. Sebagian lagi menghabiskan waktu dalam
perbuatan makruh, dan, bahkan kemaksiatan. Perbuatan ini setianya
memancing amarah Allah SWT. Namun mereka abai serta tak mengindahkan.
Maka tidaklah mengherankan apabila bencana demi bencana mulai merebak di
negeri muslimin.
Kedua, pergaulan dan persaudaraan yang tidak lagi dilandasi itikad baik.
Ketika umur dan waktu terbengkalai, ketika perkawanan tidak lagi
dilandasi niat baik, maka kerusakan merajalela, fitnah dan cobaan bakal
mendera umat, tak peduli di desa maupun di kota. Baginda Nabi SAW, dalam
sabda-sabdanya, telah banyak mengingatkan umat agar memanfaatkan waktu
dengan maksimal dan mendasari pergaulannya dengan niat soleh. Semua itu
demi kebaikan umat sendiri. Akan tetapi sayang, orang-orang sudah tutup
telinga dan mata. Mereka tak lagi berminat mendengarkan seruan beliau
SAW.
Sadarlah wahai muslimin. Waktu adalah esensi kehidupanmu. Umur adalah
peluang yang diberikan kepadamu. Berharga atau tidaknya hidupmu
bergantung pada bagaimana kau memanfaatkan usiamu itu.
Rasulullah SAW bersabda "Di hari pembalasan nanti, dua telapak kaki
seorang hamba akan tertahan dijembatan sirat. Takkan beranjak sampai ia
ditanya mengenai empat hal. untuk apakah seluruh umur hidupnya?
Dikemanakan usia mudanya? Dari mana ia mendapatkan harta dan digunakan
untuk apakah harta itu? Sudahkah ilmunya diamalkan?"
Wahai hamba Allah,,,,,
Kita wajib kembali ke jalur yang telah digariskan Rasulullah SAW. Beliau
adalah insan yang selalu berkata jujur. Beliau adalah sang petunjuk,
penyeru kebenaran, suluh umat, dan pemberi kabar-kabar dari Ilahi.
Beliau sangat cinta kepada umatnya. Kasih beliau kepada kita lebih besar
dari kasih orang tua kita sendiri kepada kita. Allah SWT berfirman :
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri”
Kembali ke dua hal di atas. Beliau SAW pernah mengabarkan : “Di dalam
surga, para penghuninya masih merasakan suatu kerugian besar, yakni
mengenai waktu yang telah berlalu—di kehidupan dunia—yang tidak mereka
gunakan untuk berzikir kepada Allah SWT.”
Beliau juga mewanti-wanti : “Ketika suatu kaum duduk bersama-sama, akan
tetapi tidak mengingat Allah SWT sama sekali, maka mereka bakal
merasakan penyesalan di hari kiamat nanti.”
Pergunakanlah waktu dengan aktifitas yang baik. Ikatlah persaudaraan
dengan asas yang bagus serta tujuan yang penuh manfaat. “Ketika
seseorang menjalin kawan, meskipun sejenak di siang hari, kelak ia akan
ditanya mengenai perkawanan itu: telahkan ia melaksanakan hak-hak Allah
SWT atau mengalpakannya?” begitulah yang dinarasikan Rasulullah SAW.
Wahai hamba Allah,,,,,
Kita sudah sering membuang-buang waktu. Di antara kita bahkan ada yang
lebih banyak mengisi waktu untuk maksiat. Marilah kita renung-kan
bersama. Ke manakah malam-malam kita? Untuk apakah umur-umur kita? Apa
yang kita kerjakan antara Maghrib dan Isyak? Bagaimana kabar majelis
muslimin, pasar-pasar dan warung-warung? Tempat-tempat itu telah menjadi
ajang melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Ingatlah, bagaimana Baginda Rasul senantiasa zikir kepada Allah di
setiap waktunya. Dulu, kaum muslimin tak pernah lalai untuk berzikir, di
mana saja, siang dan malam. Akan tetapi kini, umat Islam, baik yang
muda maupun yang tua, sudah menganggap remeh zikir. Mereka malas
mengingat Allah dan lebih suka membicarakan yang lain. Ketika di dalam
masjid sekalipun, mereka menganggap membaca Al-Quran tidak lebih asyik
daripada bicara omong kosong. Hingga kita kerap menyaksikan mereka
bicara tak tentu arah di dalam rumah Allah. Bahkan tak segan mereka
meletakkan Al-Quran yang tengah dibaca hanya demi bisa mengobrol bersama
rekan-rekan mereka. Sungguh, Betapa genting keadaan muslimin.
Tak hanya itu, umat Islam sekarang cenderung menjauhi majelis taklim.
Ketika majelis pengajian diadakan di suatu desa, pesertanya selalu tak
banyak. Orang-orang enggan datang dan lebih memilih kumpulan-kumpulan
yang kurang baik. Mereka adalah manusia yang rugi. Mereka bakal
menyesal. Keberadaan mereka sudah dinubuatkan Rasulullah SAW : “Manusia
yang paling besar penyesalannya di akhirat kelak adalah mereka yang
punya kesempatan untuk mengaji akan tetapi mereka sia-siakan kesempatan
itu.”
Masa keemasan telah berlalu, yakni masa sahabat, tabiin, dan
tabiin-tabiin. Masa ketika zikir, baca Al-Quran dan hadis menjadi
kebiasaan, baik ketika makan, minum, tidur, dan segala rutinitas.
Wahai hamba Allah,,,,,
Ketahuilah, suatu majelis yang dilandasi niatan baik dan tujuan yang
mulia, yakni ridha Allah dan Rasulullah, akan membuahkan
kebajikan-kebajikan. Di antaranya menangguhkan musibah, meredam
permusuhan, dan mencegah perbuatan munkar, Semua itu lantaran sikap
saling membantu di antara anggota. Dan mereka semua pasti memperoleh
pahala-pahala dan anugerah yang tak kecil nilainya dari Allah SWT. Sebab
itulah Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan perhatian yang agung kepada
majelis zikir dan majelis tak-lim.
Ya Allah, bimbinglah kami kepada kebaikan. Tambahkanlah rahmat-Mu untuk
kami. Siramkan anugerah-anugerah-Mu kepada kami. Elokkanlah dhahir dan
bathin kami, serta niat dan tujuan kami. Sirnakan kesulitan dari kaum
muslimin. Dengan kasih-Mu, wahai Yang Maha Kasih Sayang.
Minggu, 20 November 2016
Cinta seorang Ibu Tiada Bandingannya
Seorang pemuda datang melamar wanita cantik dan kaya raya, akhirnya terjadilah kesepakatan.
Namun tatkala si wanita mengetahui profesi ibunda si pria, maka si wanita memberi syarat :"Pada waktu resepsi pernikahan, ibumu tidak boleh datang."
Setelah berfikir, demi untuk mewujudkan pernikahannya, si pemuda dengan terpaksa menyetujuinya.
Namun sebelumnya, dia terlebih dahulu menjumpai salah seorang guru spiritualnya untuk meminta pendapat darinya.
Sang Guru bertanya:"Apa pekerjaan ibumu?"
"Aku ditinggal mati ayahku saat umurku satu tahun, akhirnya untuk
membesarkanku, ibuku bekerja sebagai tukang cuci pakaian, dan dia
berhasil mengantarkan saya sampai jadi sarjana". Jawab pemuda itu.
"Begini, hari ini kau pulang, dan kau cuci kedua tangan ibumu, besok kau kembali lagi, maka kau akan aku beri jawaban". Jawab Sang Guru.
Pulanglah pemuda itu, sesampai di rumah, dia mendekati ibunya dan
mencuci kedua tangan ibunya, dia melihat begitu kasarnya tangan ibunya,
ada bekas-bekas luka dan kulit yang terkelupas, ia melihat pemandangan
itu sambil meneteskan air mata.
Dan sang pemuda tidak tahan untuk menunggu hari esok, dia datang lagi kepada Sang Guru dan si pemuda berkata :"Aku tidak akan mengorbankan Bundaku untuk siapapun".
RENUNGAN : " Banyak diantara kita yang sering melupakan kebaikan seorang
ibu, demi kenikmatan semu dan sesaat. Maka saatnya bagi kita untuk
membahagiakan hati ibu kita. Hati yang gembira jika melihat anaknya
gembira, hati yang sedih jika melihat anaknya sedih. Ingatlah kawan
bahwa semua manusia akan mati, maka mari kita bahagiakan ibu kita
sebelum ia pergi meninggalkan kita untuk selamanya."
Sabtu, 19 November 2016
JUM'AH MUBAROK
"Banyak sekali kesunahan di hari yang sangat mulia ini.
Diantaranya :
1.Mandi Jum'at:masuk waktunya dengan terbitnya fajar dan keluar waktunya dengan pelaksanaan sholat jum'at/atau dengan tidak ada keinginan hadir sholat jum'at,dan waktu afdholnya mandi adalah ketika akan berangkat sholat jum'at.
2.Memakai pakaian yang bagus :Afdholnya adalah warna putih.lebih di sunahkan lagi bagi seorang khotib untuk memperbagus penampilannya.
3.Membersihkan badan :Seperti memotong kuku,mencabut bulu ketiak,menghilangkan bau tak sedap,bersiwak dll.
4.Memakai wewangian bagi seorang laki-laki.
5.Tabkir/Berangkat pagi-pagi untuk hadir sholat jum'at:Waktunya di mulai dari terbitnya fajr selesai dengan keluarnya imam dari sholat jum'at.Namun Tabkir tidak di sunahkan bagi seorang imam.
6.Menyibukan diri dengan dzikir atau selainya ketika dalam perjalanan menuju sholat jumat.
7.Membaca surat Al-Kahfi di malam jum'at dan hari jum'atnya:diriwayatkan barang siapa membacanya maka dia akan diterangi oleh cahaya sampai jum'at berikutnya.
8.Memperbanyak sholawat atas Nabi Muhammad SAW:Paling sedikitnya 300 sholawat
9.Diam dan tenang ketika mendengarkan khutbah
10.Sholat tahiyatul masjid
11.Memperbanyak membaca doa di waktu ijabah;seperti saat duduknya imam dari khutbah pertama sampai selesainya sholat.
12.Ziaroh kubur:Lebih di sunahkan lagi untuk ziaroh ke makam kedua orang tua yang sudah meninggal
Wallahua'lam
Diantaranya :
1.Mandi Jum'at:masuk waktunya dengan terbitnya fajar dan keluar waktunya dengan pelaksanaan sholat jum'at/atau dengan tidak ada keinginan hadir sholat jum'at,dan waktu afdholnya mandi adalah ketika akan berangkat sholat jum'at.
2.Memakai pakaian yang bagus :Afdholnya adalah warna putih.lebih di sunahkan lagi bagi seorang khotib untuk memperbagus penampilannya.
3.Membersihkan badan :Seperti memotong kuku,mencabut bulu ketiak,menghilangkan bau tak sedap,bersiwak dll.
4.Memakai wewangian bagi seorang laki-laki.
5.Tabkir/Berangkat pagi-pagi untuk hadir sholat jum'at:Waktunya di mulai dari terbitnya fajr selesai dengan keluarnya imam dari sholat jum'at.Namun Tabkir tidak di sunahkan bagi seorang imam.
6.Menyibukan diri dengan dzikir atau selainya ketika dalam perjalanan menuju sholat jumat.
7.Membaca surat Al-Kahfi di malam jum'at dan hari jum'atnya:diriwayatkan barang siapa membacanya maka dia akan diterangi oleh cahaya sampai jum'at berikutnya.
8.Memperbanyak sholawat atas Nabi Muhammad SAW:Paling sedikitnya 300 sholawat
9.Diam dan tenang ketika mendengarkan khutbah
10.Sholat tahiyatul masjid
11.Memperbanyak membaca doa di waktu ijabah;seperti saat duduknya imam dari khutbah pertama sampai selesainya sholat.
12.Ziaroh kubur:Lebih di sunahkan lagi untuk ziaroh ke makam kedua orang tua yang sudah meninggal
Wallahua'lam
Jumat, 18 November 2016
Sabda Nabi
Anas bin Malik mengatakan, bahwa Rasulullah saw telah bersabda:
"Sungguh setiap pagi dan sore Allah SWT menatap wajah orang lanjut usia, seraya berkata: "Hamba-Ku, sungguh umurmu telah lanjut, kulitmu mulai mengusut, tulang-tulangmu semakin rapuh, kematianmu semakin dekat, dan janjimu untuk kembali kepada-KU sudah menunggu di depan pintu. Karena itu, merasa malulah kepada-KU. Sebab Aku merasa malu untuk menyiksamu lantaran ubanmu yang memutih.
"Sungguh setiap pagi dan sore Allah SWT menatap wajah orang lanjut usia, seraya berkata: "Hamba-Ku, sungguh umurmu telah lanjut, kulitmu mulai mengusut, tulang-tulangmu semakin rapuh, kematianmu semakin dekat, dan janjimu untuk kembali kepada-KU sudah menunggu di depan pintu. Karena itu, merasa malulah kepada-KU. Sebab Aku merasa malu untuk menyiksamu lantaran ubanmu yang memutih.
Kamis, 17 November 2016
Gelapnya Hati
- Berbuat dosa karena selalu mengharapkan taubat
- Berilmu, tetapi tidak diamalkan
- Beramal, tetapi tidak ikhlas
- Rezeki Allah dinikmati, tetapi tidak pandai bersyukur
- Tidak rela menerima segala pemberian Allah
- Mengubur jenazah dan tidak diambil sebagai peringatan
- Berilmu, tetapi tidak diamalkan
- Beramal, tetapi tidak ikhlas
- Rezeki Allah dinikmati, tetapi tidak pandai bersyukur
- Tidak rela menerima segala pemberian Allah
- Mengubur jenazah dan tidak diambil sebagai peringatan
Rabu, 16 November 2016
Krisis Akhlaq Gerakan Islam
Krisis Akhlaq Gerakan Islam
Krisis Akhlaq Gerakan Islam
Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy
Oleh: DR. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy
Menghina saudara bukanlah akhlak seorang muslim
“Adalah sebuah keburukan yang nyata, apabila seorang muslim menghina saudaranya.” (HR. Muslim)
Penggalan
hadits Rasulullah saw ini berisi larangan keras bagi seorang muslim
untuk menghina saudara muslim lainnya, dengan jalan apapun ia
merendahkannya dan karena sebab apapun. Menghina adalah memicingkan mata
dan meremehkan seseorang, orang yang hina adalah yang kecil tak
bermakna, baik dilihat dari sisi fisik maupun maknanya, dengan ini kita
bisa membedakan antara kritik yang disyariatkan apabila ada alasan yang
mendasarinya dengan penghinaan yang tidak disyariatkan sekalipun ada
alasan dan situasi yang mendukungnya.
Kritik
adalah koreksi atas kesalahan sehingga terhindar darinya untuk kali
kedua, adapun menghina adalah sikap merendahkan dan meremehkan pribadi
pelaku kesalahan tanpa memandang kerja keras dan usaha yang dilakukan.
Apabila jelas perbedaan ini dalam pandangan kita, maka, sekalipun
masih ada sebagian kita yang belum memahaminya, maka kita akan tahu
hikmah Rasulullah saw melarang sifat buruk ini apapun dengan cara dan
alasan apapun. Sikap menghina apapun bentuknya adalah sifat destruktif
yang tidak membawa angin baik sama sekali, baik kepada pribadi yang
dihina dan masyarakat di mana ia hidup, bahkan yang terjadi adalah
sebaliknya, ia membawa bibit kebencian, pertentangan dan perpecahan.
Kalau seandainya orang yang menghina itu mengharap kebaikan orang yang
dihina atau masyarakatnya, maka hendaknya ia sentuh kesalahan itu bukan
pribadi yang bersalah, jika ia lakukan itu maka ia akan mendapatkan buah
kebaikan dari kesalahan yang terjadi dan semuanya menjadi lebih mudah
dan ringan untuk diterima.
Kebanyakan
orang yang suka menghina saudaranya adalah orang-orang yang suka
mencari kesalahan dan kekurangannya dibanding meneliti kebaikan dan
keutamaannya. Orang yang sepanjang hidupnya memilki prilaku seperti ini,
selamanya tidak akan pernah memiliki rasa tertarik kepada siapapun, dan
selamanya tidak akan mampu melakukan perbaikan apapun. Sunnatullah yang
berlaku pada manusia, kecuali para Nabi dan Rasul, diri mereka
terbangun di atas gabungan dua hal, kekurangan dan kesempurnaan. Setiap
orang berbeda dan bertingkat antara satu dengan yang lain, namun
kepaduan dua ha ini akan selalu menyatu dan bercokl dalam tabiat
kemanusiaan mereka, dan mencari-cari kesalahan dan aib orang lain adalah
termasuk termasuk aib dan kekurangan manusia yang paling berbahaya.
Orang
yang tidak mampu mengendalikan sikap mencari-cari aneka kekurangan
orang lain, pada akhirnya tidak mampu untuk menghindarkan dirinya jatuh
dalam sikap menghina dan meremehkannya, karena ia tidak akan mampu untuk
mengkritik aib orang lain dengan kritik yang korektif dan membangun,
karena jika itu terjadi maka manusia yang ada di hadapannya pasti telah
menjadi malaikat yang terpelihara, ini adalah hal yang mustahil terjadi,
karenanya kritik terhadap aib orang lain itu berubah menjadi penghinaan
terhadap pribadi yang dikritik.
Obat
penawar bagi orang yang suka menghina adalah dengan kembali melihat
dirinya dengan teliti sebagaimana ia melihat orang yang ada di luar
dirinya, maka jika ia orang yang berakal dan sadar, ia pasti akan
mendapati kekurangan yang mana ia menghina orang lain berdasar
kekurangan tersebut, kemudian ia berusaha untuk selalu memperbaiki
kekurangan itu, seandainya ia tidak memilki kemampuan untuk
menghilangkan dan membersihkan aib dan kekurangan itu, maka hendaklah ia
tahu bahwa itu adalah Sunnatullah di alam semesta ini, manusia tidak
pernah lepas dari kekurangan dan itu adalah tabiatnya, sehingga dengan
kesadaran ini ia akan bersikap rendah hati terhadap yang lain, ia
berusaha untuk menutup mata ketika melihat kekurangan itu ada
menggantung dalam diri seseorang.
Namun
bukan berarti syariat Islam membiarkan kita diam dan rela terhadap
penyimpangan sebagian kita, justru syariat ini mengajak kita dengan dua
potensi positif dan negatif itu agar saling bekerjasama dalam
memperbaiki segala hal dan saling menyokong agar sampai kepada derajat
kesempurnaan semaksimal mungkin. Sangat berbeda antara kritik membangun
yang didasarkan pada unsur saling kerjasama dan nasehat-menasehati,
dengan sikap menghina yang berdiri di atas sikap takjub kepada diri
sendiri dan iri.
Rasulullah saw mengingatkan kita : “Agama adalah nasihat.”
Dan
dalam sabda yang lain : “Adalah sebuah keburukan yang nyata, apabila
seorang muslim menghina saudaranya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)
sumber : http://www.eramuslim.com
Langganan:
Postingan (Atom)






